1.Dari Depok hingga Kabupaten Kekurangan Sekolah Negeri di Depok–Bogor, Dedi Mulyadi Janjikan 50 Sekolah Baru Pada 2026
Koran Depok Dari Depok hingga Kabupaten Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengakui terdapat ketimpangan kapasitas sekolah negeri di daerah padat seperti Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, dan Kabupaten Bogor. Banyak lulusan SMP sulit diterima di SMA/SMK negeri dan terpaksa memilih sekolah swasta yang lebih mahal
Sebagai solusi, Dedi berjanji membangun 50 sekolah baru sepanjang tahun 2026 di wilayah yang kekurangan fasilitas pendidikan negeri Ia memastikan pemerintah provinsi memberikan komitmen nyata untuk menutupi kebutuhan sekolah di wilayah tersebut.
2: Analisis Anggaran & Kapasitas
Dedi Mulyadi telah melakukan realokasi anggaran besar-besaran untuk pendidikan. Dari alokasi awal sekitar Rp60 miliar, kini Disdik Jabar mendapat anggaran Rp600 miliar, dengan fokus utama pada pembangunan ruang kelas dan sekolah baru hingga tahun 2026
Meski anggaran pendukung Disdik Jabar mencapai Rp11,2 triliun, Dedi menekankan prioritas utama ialah belanja modal unit sekolah, bukan hanya perangkat teknolog Targetnya: menjadikan seluruh sekolah negeri siap pakai selambat‑lambatnya tahun 2026
3: Dampak Kebijakan Rombel 50 Siswa
Sebagai solusi sementara terhadap kekosongan ruang kelas, Gubernur Jabar juga menerapkan kebijakan rombongan belajar (rombel) maksimal 50 siswa per kelas di sekolah negeri, terutama SMA/SMK
Namun kebijakan ini menuai kritik karena dianggap membebani mutu pembelajaran dan guru, serta membahayakan kualitas interaksi kelas jika tidak segera diatasi dengan pembangunan unit baru Dedi sendiri menyebut kebijakan ini bersifat darurat, dengan janji menurunkan kembali jumlah siswa per kelas setelah ruang kelas baru tersedia
4: Suara dari Komunitas & Pakar
Berbagai pihak mengangkat efek domino dari kebijakan tersebut: ribuan sekolah swasta di Jawa Barat kini kekurangan siswa baru, karena banyak siswa pilihan utama masuk sekolah negeri dengan rombel besar
Pengamat pendidikan memperingatkan bahwa meski niatnya positif, lonjakan siswa per kelas hingga 50 orang bisa mengurangi kualitas pengajaran dan memperparah beban guru di lapangan
5: Wawasan Sosial & Zonasi
Fenomena ketimpangan fasilitas pendidikan negeri juga menggaung di ruang diskusi publik. Banyak orang tua dan siswa lebih memilih sekolah swasta karena kualitas dan lingkungan yang lebih stabil, meski bayar lebih mahal
Hal ini menunjukkan bahwa penyediaan sekolah negeri bukan hanya soal kuantitas, tapi juga mutu, pemerataan fasilitas, dan penciptaan sekolah yang dianggap layak dan unggul oleh masyarakat umum.
6: Dari Depok hingga Kabupaten Informasi Teknis & Rencana Lokasi
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Daerah terdampak | Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor |
| Masalah utama | Kekurangan kursi di SMA/SMK negeri bagi lulusan SMP |
| Kebijakan darurat | Rombel hingga 50 siswa per kelas di sekolah negeri |
| Jumlah sekolah baru | 50 unit sekolah direncanakan selesai 2026 |
| Alokasi anggaran pendidikan | Realokasi dana Rp600 miliar untuk RKB/sekolah baru |
| Tujuan jangka panjang | Menekan angka putus sekolah dan meningkatkan akses pendidikan negeri merata di Jabar |
7: Dari Depok hingga Kabupaten Motivasi & Harapan Bupati
Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa membangun sekolah bukan sekadar infrastruktur, melainkan investasi sosial jangka panjang. Ia menekankan pentingnya memastikan setiap anak bisa tertampung di sekolah negeri agar tidak putus sekolah karena kendala biaya atau akses
Kesimpulan Singkat
Kebijakan darurat rombongan belajar 50 siswa per kelas adalah solusi sementara, dan realokasi anggaran besar-besaran telah dilakukan. Publik, khususnya orang tua dan pengamat pendidikan, berharap kualitas juga terjaga seiring kuantitas fasilitas diperbanyak.












