Ayah Brigadir Esco Gugat Keheningan: “Ungkap Matinya Anak Kami yang Penuh Kejanggalan
Koran Depok — Ayah Brigadir Esco Di balik bungkamnya kabut perbukitan Lombok Barat, tersimpan kisah duka dan kegundahan. Brigadir Esco Fasca Rely, anggota Intel Polsek Sekotong, ditemukan wafat dengan keadaan tubuh yang penuh tanda tanya, dan kini ayahnya, Samsul Herawadi, menuntut satu hal: kejelasan.
Keraguan yang Mengguncang Keyakinan
Setelah jasad Esco ditemukan dengan wajah rusak, tubuh membengkak, dan leher terjerat tali, banyak hal yang dianggap tidak wajar oleh keluarga. Samsul menolak keras narasi “bunuh diri” yang dikemukakan awalnya. Menurut dia:
Bukan luka biasa. Ini kehilangan organ, bukan sekadar bekas.”
Bahkan luka “benda tumpul” yang disebutkan dalam Berita Acara Pemeriksaan dianggapnya tidak mewakili apa yang ia lihat sejak mata jernih pertama kali memandang jasad anaknya
Baca Juga: BBM Swasta Langka, Petugas SPBU Shell di Serpong: Sudah Seminggu Kosong
Tiga Kejanggalan yang Menambah Misteri
Warga sekitar menyampaikan sejumlah hal aneh: tidak tercium bau membusuk meski jasad sudah membusuk, lokasi penemuan jasad hanya sepuluh meter dari rumah, dan posisi tali leher yang tampak disusun secara aneh Semua itu membuat keluarga semakin sulit menerima tumpukan bukti sekilas—karena, seperti kata Samsul:
Polda NTB Turun Tangan, Otopsi Ungkap Tanda Kekerasan
Pasca temuan jasad, Polda NTB mengambil alih investigasi kasus. Hasil autopsi awal mengungkap adanya indikasi kekerasan pada leher almarhum—memperkuat spekulasi bahwa ini bukan sekadar kematian tragis.
Berbagai saksi kini mulai dimintai keterangan, termasuk istri dan keluarga korban—sementara ponsel Brigadir Esco, yang ditemukan namun terkunci, tengah diakses dengan bantuan Bareskrim sebagai bukti penting
Ayah Brigadir Esco Kepedihan, Keraguan, dan Harapan
Samsul, yang juga ASN di Satpol PP, bukan hanya menghadapi kehilangan anak. Ia berhadapan dengan kebisuan jawaban dan lambannya proses. Ia bahkan berharap, jika korban ternyata dibunuh, pelaku harus mendapat hukuman maksimal.
Seumur hidup mungkin kami tidak bisa menerima. Kami harap ini diusut tuntas.”
Tabel Ringkasan Fakta & Tindak Lanjut
| Isu Utama | Fakta / Perkembangan |
|---|---|
| Kejanggalan ditemukan | Luka tumpul, wajah rusak, kehilangan organ |
| Keluarga menolak dugaan bunuh diri | Samsul heran jika anaknya memang punya masalah psikologis sebelum hilang kontak |
| Fakta autopsi | Ada indikasi kekerasan di leher |
| Proses penyelidikan | Dilakukan bersama Polda NTB & Polres Lobar |
| Bukti digital | Ponsel korban kini diteliti oleh Bareskrim |
Catatan Penutup:
Kasus kematian Brigadir Esco adalah percikan kecil namun tajam terhadap citra keadilan dan transparansi di lembaga hukum. Suara seorang ayah, yang mencintai anaknya dengan sosok pendiam, kini memicu gelombang pertanyaan: Ketika hukum dan cinta saling bertabrakan, mana yang akan menang?
Polda NTB berada di persimpangan—antara menjawab harapan keluarga, sampai dengan menemukan fakta yang “nyaman” untuk publik. Sementara keluarga berseru: “Tuntaskan, jangan biarkan keadilan terkubur dalam debu kesunyian.”






