1.Warga Gugat Maruarar Sirait ke MA, Aturan Subsidi Rumah Dinilai Memihak Orang Kaya
Koran Depok Aturan Rumah Subsidi Sejumlah warga berpenghasilan rendah resmi menggugat Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, ke Mahkamah Agung (MA). Mereka menyoroti Peraturan Menteri (Permen) Nomor 5 Tahun 2025 yang memperluas definisi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) hingga mencapai penghasilan Rp14 juta per bulan—hingga dipandang merampas hak masyarakat miskin.
Kuasa hukum pemohon, Teguh Satya Bhakti, menyatakan ketetapan ini menyalahi Undang-Undang Tapera (No. 4 Tahun 2016) dan Inpres Tentang Data Tunggal Sosial Ekonomi (DTSen), sehingga warga miskin kini harus bersaing dengan masyarakat berpenghasilan tinggi demi rumah subsidi.
2 Kebijakan Subsidi Baru Dinilai Jebak MBR ke Persaingan Usaha: Apa Dampaknya?
Permen itu memperluas ambang batas MBR hingga Rp14 juta per bulan—sementara sebelumnya hanya menyasar pekerja dengan pendapatan setara upah minimum. Kebijakan ini dianggap melemahkan akses masyarakat benar-benar berpenghasilan rendah ke rumah subsidi.
Kuasa hukum menyoroti ketidaksinkronan kebijakan baru dengan UU Tapera dan klasifikasi Data Tunggal Sosial Ekonomi (DTSen), di mana penduduk dengan penghasilan tersebut termasuk kelompok “sangat kaya”.
Dampaknya: beban APBN Rumah FLPP bisa tersedot untuk kalangan yang lebih mampu, sementara orang miskin dikucilkan dari program pemerintah. Gugatan ke MA membuka peluang harmonisasi ulang kebijakan agar lebih tepat sasaran.
3 Kami Malu Budaya Subsidi Jadi Tambah Miskin” – Warga Kabur Rumah Subsidi Kini Gugatan ke Ara
Sejumlah warga miskin merasa teringkari oleh kebijakan yang semestinya menjadi jangkar keadilan sosial.
Seorang pemohon menyatakan, “Sekarang kami seperti dipaksa bertarung dengan orang kaya hanya untuk mendapatkan rumah dari negara.” Kalimat ini mencerminkan luka keberimbangan serta kecemasan warga miskin terhadap ruang hidup mereka sendiri.
Tabel Perbandingan Gaya Penulisan
| Gaya Penulisan | Fokus Utama |
|---|---|
| Laporan Ringkas | Fakta gugatan, angka batas pendapatan, dasar aturan |
| Analisis & Implikasi | Ketidaksesuaian hukum, potensi penyalahgunaan APBN, peluang revisi |
| Narasi Emosional | Suara rakyat, ketidakadilan simbolik, tekanan sosial terhadap MBR |












